BCCPGLE-KfW Adakan Rapat Pengukuhan Batas Hutan Adat, Masyarakat Pilih Angka 290 Detail

Pemerintah Gampong Durian Kawan dan Sejumlah Pemangku Kepentingan Adakan Rapat Pengukuhan Batas Hutan Adat Gampong

Kamis, 14 Februari 2019


Masuknya program BCCPGLE-KfW ke Gampong Durian Kawan memberikan angin segar bagi masyarakat setempat, pasalnya, dengan adanya program tersebut, masyarakat Gampong Durian Kawan bisa dengan terencana dan terpimpin untuk melakukan pelestarian sumber daya alam dan hutan didaerah tersebut.

Program BCCPGLE-KfW yang merupakan hasil hibah Jerman tersebut, selalu berupaya dalam melestarikan sumber daya alam dan hutan dengan cara-cara melakukan penanaman ulang atau reboisasi di kawasan hutan yang sudah beralih fungsi menjadi kebun warga, dengan menanami tanaman-tanaman akar tunggang yang memiliki nilai jual, dengan maksud agar bisa mencegah terjadinya longsor atau erosi di kawasan hutan pegunungan dan juga bisa menumbuhkan perekonomian masyarakat setempat.

Kebun Benih Rakyat (KBR) adalah bukti langkah nyata yang telah dilakukan BCCPGLE-KfW dalam upaya pelestarian sumber daya alam dan hutan di Gampong Durian Kawan, dimana hasil dari KBR tersebut yang berupa bibit-bibit tanaman dibagikan gratis kepada masyarakat setempat untuk ditanam di area perkebunan masyarakat yang berada di kawasan hutan Gunung Sinenggan.

Beberapa waktu yang lalu, Program BCCPGLE-KfW ini juga telah membuat regulasi tentang pengelolaan sumber daya alam dan hutan yang berbentuk Qanun Hutan Adat Gampong yang juga merupakan hasil kerjasama dengan Pemerintah Gampong Durian Kawan.

Perencanaan menjadikan kawasan hutan yang terletak di sebelah tenggara kawasan pemukiman masyarakat Durian Kawan tersebut menjadi kawasan Hutan Adat Gampong, sudah diancang-ancang sejak Tahun 2017 lalu. Hasil survei pada tahun tersebut menunjukkan, batas Hutan yang bisa dijadikan Hutan Adat Gampong Durian Kawan adalah 290 Hektare dan atau 78 Hektare. Angka tersebut sesuai dengan kelayakan untuk dijadikan hutan adat berdasarkan tutupan hutannya ataupun belum dilakukan penggarapan dan berbatasan langsung dengan kebun-kebun warga. Hasil survei, 290 Hektare yang berpotensi dijadikan Hutan Adat Gampong, memiliki ketinggian 100 Meter diatas permukaan laut, sedangkan 78 Hektare, ketinggiannya mencapai 281 Meter diatas permukaan laut.

Hari Jumat (8/2/19), fasilitator BCCPGLE-KfW mengadakan rapat pengukuhan Batas Hutan Adat Gampong di Dusun Tanah Munggu, dihadiri oleh Pemerintah Gampong Durian Kawan dan sejumlah pemangku kepentingan. Hasil rapat tersebut, diputuskan untuk mengambil 290 Hektare sebagai luas Hutan Adat Gampong Durian Kawan. Batasan Hutan Adat Gampong seluas 290 Hektare tersebut, rencananya akan disurvei ulang untuk memastikan angka yang real dan bisa menjadi patokan untuk memutuskan batas Hutan Adat Gampong Durian Kawan. “Angka tersebut bisa saja berkurang, dan bisa juga bertambah” ucap Qadaruddin, fasilitator lapangan BCCPGLE-KfW. “Hutan Adat Gampong yang diusul ini berbatasan langsung dengan kawasan hutan negara HPT (Hutan Produksi Terbatas), yang terletak di atas puncak gunung Sinenggan, HPT ditaksir masuk wilayah Durian Kawan lebih kurang 700 Hektare, dan yang 700 hektare itupun kita usulkan menjadi Hutan Adat Gampong” tambahnya.

Rencananya tim survei ini akan bergerak untuk melakukan tracking menggunakan GPS sepanjang batas-batas atau titik-titik koordinat antara kebun warga dan hutan yang belum digarap. Dan hasil yang didapat akan dimusyawarahkan kembali untuk di-SK-kan oleh Pemerintah Gampong Durian Kawan.