Adakan Kenduri Blang, Masyarakat Bawa Bambu Kuning ke Sawah Detail

Pelaksanaan Kenuri Sawah Masyarakat Gampong Durian Kawan Tahun 2019

Selasa, 26 Februari 2019


Masyarakat Gampong Durian Kawan telah memasuki masa tanam Padi tahun 2019, seperti biasanya, masyarakat akan mengadakan kenduri blang setelah mencapai 97%-100% kesiapan tanam.

Kenduri Blang atau Kenduri Sawah untuk sebutan lokal memang agak sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan Kenduri Blang pada Suku Aceh, Suku Kluet, pada Gampong Durian Kawan khususnya, ada dua kenduri yang diadakan setiap masa turun ke sawah, yaitu “Kenuri Benih” dan “Kenuri Sawah”. Kenuri Benih, biasanya diadakan sebelum menanam atau pada saat ingin menabur benih, dan biasanya diadakan di Mesjid, sedangkan Kenuri Sawah dilakukan di area persawahan, biasanya di “Batu Hampar” setelah penanaman selesai.

Kenuri Sawah di daerah Durian Kawan khususnya dan di Kecamatan Kluet Timur pada umumnya, memiliki keunikan tersendiri dalam pelaksanaannya. Biasanya masyarakat membawa Bambu Kuning atau Buluh Gading untuk sebutan lokalnya ke tempat acara pelaksanaan Kenuri Sawah. Buluh Gading yang dibawa biasanya terdiri dari dua macam, satu untuk ukuran yang besar dan yang kedua untuk beberapa ukuran kecil. Ukuran Besar, dibuat menjadi seperti “Sangkak Ayam” atau Sarang Ayam dan biasanya diisi dengan “Acom Rimo Mungkur”  atau Jeruk Purut yang sudah dibelah-belah. Diikuti dengan Buluh Gading dengan ukuran kecil yang juga ditusukkan Acom Rimo Mungkur di ujungnya.

Bukan hanya Buluh Gading, masyarakat juga membawa bekal makanan untuk santap siang yang berupa Nasi yang dibungkus daun Pisang beserta lauk-pauknya, ditambah dengan Ketupat dan juga “Riris” atau Lemang sebagai cemilannya. Nantinya, kulit dari Ketupat dan juga Riris biasanya juga dimasukkan ke dalam Sangkak yang dialasi dengan Daun Pisang yang didapat dari bungkus Nasi sebelumnya.

Sangkak beserta “Anaknya” nantinya ditancapkan diarea sawah masing-masing, Sangkak akan di tancapkan di sudut Take Sawah (Ujung Sawah), dan “Anaknya” ditancapkan disudut yang lain.

Menjelang makan siang, Tokoh Adat dan Hukum beserta masyarakat Gampong Durian Kawan sama-sama memanjatkan Do’a kepada Tuhan untuk meminta keselamatan tanaman Padi yang telah mereka tanam, supaya dijauhkan dari Hama dan Bencana yang bisa menggangu keberlangsungan hidup dari tanaman tersebut.

Budaya Kenuri Sawah tersebut sudah diwariskan oleh nenek moyang masyarakat setempat, dan itu telah menjadi tradisi yang turun-temurun dilakukan setiap Kenduri Sawah berlangsung. Masyarakat setempat beranggapan penggunaan Bambu Kuning yang ditancapkan di sudut-sudut Sawah tersebut bisa menjadi “Obat” yang bisa melindungi tanaman Padi dari “Penyakitnya”.